Kejadian Tak Terlupakan

Perampokan bersenjata di bank siang itu membawa pengalaman traumatik bagi Rifrita (22), seorang mahasiswi kedokteran umum di salah satu universitas swasta di Jakarta Barat. Siang itu ia berada dalam bank tersebut untuk kepentingan biaya pembayaran kampusnya.


11253704_1146068285424111_2004694294_a

Suasana bank cukup ramai, bersama para nasabah lainnya Rifri,nama panggilannya, mengantri menunggu layanan kasir. Tiga kasir bank sibuk melayani nasabah, satu persatu.Tiba-tiba lima orang lelaki berbusana serba hitam ditutup jaket kulit hitam tiba-tiba masuk ke ruang tunggu dan langsung mengeluarkan senjata api jenis pistol dan sebuah laras panjang.

“Jangan ada yang bergerak.. semuanya diam, jangan membuat tindakan ceroboh atau kepala kalian akan pecah,” teriak seorang lelaki yang memimpin.

Suasana sempat kacau penuh teriakan dan para nasabah berhamburan. Kawanan rampok itu kemudian menyebar, dua orang masuk ke sisi kasir, sedangkan tiga lainnya sibuk mengacungkan senjata ke nasabah. Seorang lainnya mengejar nasabah yang lari ke lantai dua.Kawanan rampok mengikat para nasabah. Ada yang tiga menjadi satu, ada yang dua menjadi satu, dan semua mulut mereka ditempel lakban. Seorang perampok menjaga di pintu, satpam yang berjaga di meja dalam juga tidak terlihat, hanya pakaiannya tergeletak di lantai, mungkin ia ditelanjangi rampok. Tubuh Rifri dan satpam itu terikat menyatu berhadapan dilakban melingkar dibagian pinggang dan dada. Tangan mereka juga diikat lakban ke belakang. Keduanya berbaring dilorong menyamping berhadapan, mulut masing-masing juga tertutup lakban.

Bagi Rifri, perampokan di bank itu menimbulkan trauma sesaat tetapi berakhir dengan sensasi seks yang selama ini tak pernah ia bayangkan. Terikat di lorong sempit dengan tubuh berdempetan berhadapan dengan lelaki asing membuat Rifri risih bukan kepalang, apalagi si lelaki hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor. Tapi perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat kawanan rampok bersenjata itu. Sekitar tiga menit berbaring berhadapan seperti itu, Rifri melihat lelaki di depannya berhasil membuka lakban di mulutnya setelah berusaha keras mendorong lakban itu dengan lidahnya.

“Tenang mbak,saya Usman satpam di bank ini. Maaf pakaian saya tadi dilucuti rampok. Sepertinya sekarang mereka sedang membongkar brangkas dan tak mungkin kembali ke mari, ayo kita berusaha lepaskan ikatan ini bersama ya..,” kata Usman.

Rifri mengangguk saja dan berharap upaya mereka berhasil. Usman kemudian melepaskan lakban di mulut Rifri dengan cara menggigit sisi lakban dan menariknya. Rifri sempat terpekik merasakan perih bibirnya tertarik rekatan lakban, tapi kemudian berusaha tenang.

“Terus bagaimana caranya,pak?” tanya Rifri menanyakan cara mereka melepaskan ikatan lakban di tubuh.

Sepertinya sulit karena masing-masing tangan mereka terikat ke belakang dililit lakban, sementara lakban lainnya melilit rapat menyatukan bagian pinggang, perut mereka berdempetan. Usman lalu menjelaskan pada Rifri bahwa sifat karet pada lakban dapat digunakan sebagai kesempatan mereka lolos dari ikatan. Caranya dengan terus bergerak agar lakban menjadi molor dan longar elastis.

“Kita masih punya kaki yang bebas mbak. Saya akan membalik badan dan mbak harus berusaha berposisi di atas saya. Setelah itu kaki mbak bisa menjejak lantai mendorong ke arah atas tubuh saya… mungkin akan berhasil,” kata Usman.

Ia segera mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya berbaring miring berhadapan, menjadi saling tindih,Rifri berada di atas. Ini dilakukan Usman agar Rifri tidak merasa berat jika Usman yang berada di atas, sebab bobot Usman yang tinggi besar tentu akan menyesah Rifri bila tertindih. Posisi Rifri sudah di atas tubuh Usman. Ia menuruti perintah Usman dan mulai menggerakan badannya ke arah atas tubuh Usman dengan menjejakkan kaki di lantai. Tapi rok span yang dikenakannya menghalangi usaha Rifri menjejakkan kaki secara maksimal ke lantai, sebab ia harus lebih mengangkangkan kakinya agar bisa melewati kaki Usman di bawah kakinya. Rifri terus berupaya dan akhirnya ia bisa mengangkangkan kaki lebih lebar, akibat gesekan tubuh mereka, rok Rifri naik sampai bongkahan pantatnya terlihat. Tapi tak apa, pikir Rifri, demi usahanya menjejak kaki ke lantai. Lagi pula Usman tak mungkin melihat pantatnya karena ia berada di bawah Rifri.

 10348200_10203540255843107_3955844969661674722_n

“Terus goyang mbak.. sudah mulai longgar ikatannya,” Usman berbisik pada Rifri.Entah mengapa kata-kata “goyang” yang dibisikan Usman membuat Rifri risih. Ia baru sadar gerakannya berusaha melepas ikatan terkesan menjadi gerakan yang erotis. Ia juga baru sadar kalau sejak tadi payudaranya terus menggerus dada Usman, dan gerakan demi gerakan yang menimbulkan gesekan di tubuh keduanya mulai mempengaruhi libido Usman.

“Astaga.., pak. Apa ini..? kok terasa keras.. Tolong pak, bapak nggak boleh terangsang.. ini dalam perampokan..,” Rifri berbisik balik ke Usman saat merasakan sesuatu benda mengeras hangat terasa di bawah pusar Rifri.

Penis Usman rupanya ereksi setelah beberapa lama merasakan gesekan tubuh putih dan mulus Rifri.

“Oh.. ehh.. maaf mbak.. saya sudah berusaha untuk mengabaikan rasanya tapi gesekan-gesekan itu mengalahkan pikiran saya,maaf mbak.. tapi saya pikir ini alami bagi lelaki, yang terpenting sekarang kita harus terus berusaha melepas ikatan ini mbak.. sebelum perampok itu kembali ke mari,” Usman agak gugup dan malu menyadari Rifri mengetahui penisnya mulai bangun.

“Ya sudah.. nggak apa-apa, asal bapak jangan macam-macam ya..,” kata Rifri.

Ia sadar tak bisa menyalahkan Usman. Dan lagi benar apa kata Usman bahwa itu sangat alami dan Rifri juga merasakan hal yang sama, ada kenikmatan menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek ia lakukan. Pikirnya, perampokan bank yang menyebabkan mereka berdua berada dalam posisi terikat seperti itu, dan mereka harus bersama kompak melepaskan ikatan tersebut. Rifri kembali memusatkan pikirannya pada upaya melepaskan lakban. Ia kembali menggerakan tubuhnya menggesek tubuh Usman dari atas ke bawah dan sebaliknya dari bawah ke atas, agar ikatan lakban melonggar. Upayanya cukup berhasil, kini jarak gesekan sudah bisa lebih jauh menandakan lakban mulai longgar elastis. Bagian perut Rifri sudah bisa menjangkau perut Usman bagian atas, Rifri berusaha terus menjejak lantai agar tubuhnya terdorong naik lebih jauh.“Ehmm mbak.. coba lagi ke bawah.. terus dorong lagi ke atas.. sudah mulai longgar lakbannya..,” suara Usman semakin parau.

Tubuh Rifri yang terdorong ke atas membuat penis Usman kehilangan sentuhan, sebab selangkangan Rifri kini sudah diatas melewati ujung penisnya. Rifri setuju dengan Usman, mungkin gerakan harus kembali ke bawah lalu kembali lagi ke atas sehingga ikatan lakban makin molor elastis. Tapi gerakan ke bawah yang dilakukan Rifri justru membuat keadaan mereka berdua berubah. Pikiran masing-masing mulai terpecah antara kenikmatan yang mulai dirasakan atau upaya melepas lakban.

“Enghhh..,” Rifri melenguh kecil.

Ia merasakan ujung penis Usman menyentuh CD yang dipakainya. Penis Usman yang sudah sangat tegang terdorong keluar dari balik celana kolornya, lantaran gesekan membuat kolornya melorot. Kini, setiap gerakan Rifri membuat koneksi ujung penis Usman kian terasa mendorong-dorong CD Rifri. Rasa nikmat kekenyalan itu terasa semakin sering di bibir vagina Rifri yang terhalang CD. Rifri terus berupaya memecah pikirannya agar tetap konsentrasi beregerak demi melepas ikatan lakban, tapi semakin bergerak dan semakin gesekan terjadi membuah gairah seksualnya terdongkrak naik. Lama-lama ia merasakan Cdnya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Apalagi, dari bawah Usman juga terus bergerak berusaha melepaskan ikatan lakban ditanganya yang tertindih ke belakang. Hal ini membuat erotisme tersendiri dirasakan Rifri.

“Enghh.. ahh..,” Rifri mendesah dan menghentikan gerakannya.Ia menyadari kini posisi sudah sangat gawat. Gerakan-gerakannya justru mengantar ujung penis Usman mengakses bibir vaginanya lewat sisi kiri CD-nya. Rifri merasakan kepala penis Usman sudah berada tepat di tengah bibir vaginanya yang basah dan sudah tidak terhalang CD yang kini melenceng ke samping.

“Hmm..mbak, kenapa berhenti.. sudah hampir lepas ikatannya nih..,” Usman terus bergerak berusaha melepas ikatan tangannya. Tapi ia juga merasakan penisnya sudah menyentuh kulit vagina Rifri secara langsung, karena sisi CD Rifri yang membasah tergeser ke samping. Rifri berusaha mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya naik dan vaginanya menjauh dari penis Usman. Namun upayanya gagal, kini ikatan lakban justru mengancing posisi itu, Rifri tak mungkin naik, hanya bisa turun ke bawah beberapa kali lalu naik lagi setelah ikatan melonggar kembali. Rifri mulai putus asa. Ia harus bisa lebih cepat melepaskan ikatan lakban itu sebelum penis Usman mengakses lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih berjalan dan menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi Usman, dalam keadaan terpaksa begitu. Konsentrasi Rifri gagal. Gerakan Usman dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina Rifri yg masih perawan.

“Aaahh pak saakiit..,” Rifri tak kuasa menahan sakit ketika merasakan kepala penis Usman mulai menguak bibir vaginanya.

“Maaf mbak,,tahan dikit yah,”jawab Usman sambil terus bergerak berusaha melepas ikatan ditangannya yang tertindih tubuh Rifri.

Tapi setiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar masuk di bibir vagina Rifri yg masih rapat. Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada Rifri, ia masih berusaha diam diatas tubuh Usman sampai ada kesempatan menjejak kaki agar vaginanya menjauh dari penis Usman. Rifri akhirnya berspekulasi. Sekali gerakan ke bawah, lalu sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan vaginanya dari penis Usman.“Enghhhh.. aaaahh.., pak jangan gerak duluhh.. ini nggak boleh terjadi” kata Rifri, wajahnya bersemu merah. Tubuh dan wajah Rifri serta kulitnya yang putih yang merupakan ciri khas wanita chinese.

“Iya mbak.. saya juga pikir begitu. Tapi bagaimana lagi, posisi kita sulit berubah selama ikatan ini..,” jawab Usman, ia juga menjadi serba salah dengan posisi itu.

“Oke pak.. sekarang gini aja.. saya akan bergerak turun, dan mungkin itu akan terjadi.. anu bapak bisa masuk ke anu saya.. tapi itu hanya sekali ya, dan saya akan mendorong ke atas membuatnya lepas lagi. Setelah itu kita konsentrasi lagi untuk melepas lakban sialan ini..,” kata Rifri dengan nafas berat.

“Iya.. iya. Terserah mbak. Tapi tolong saya jangan dilaporkan ke atasan saya apalagi polisi mbak. Kalau anu saya masuk ke anu mbak.. nanti saya dibilang memperkosa,”Usman polos ketakutan.

“Hnnggaak pak.. ini kan karena perampok sialan itu, jadi bukan salah saya atau bapak… sekarang bapak diam ya.. saya coba gerak lagi.. Eenghhh… ahhhhh… ahhh,” Rifri mendesah kecil sambil mengerakan tubuhnya bergeser  ke bawah. Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis Usman. Usman agak hitam kulitnya, tapi wajahnya manis dan badannya kekar. Ini merupakan pengalaman pertama Rifri merasakan penis masuk dalam lubang vaginanya dikarenakan keinginan Rifri untuk menjaga keperawanannya buat calon suaminya nanti,tapi apa daya ia sekarang merasakan sensasi nikmat yg luar biasa saat kepala penis Usman pelan-pelan mulai merobek selaput darah di vaginanya.

“Ayo mbak.. dorong lagi ke atas biar lepas,” Usman khawatir karena kini penisnya sudah mulai mengakses lebih dalam vagina Rifri.

“Iya pak.. aaaaaaahhhh…,” Rifri menahan sakit sambil berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya terdorong ke atas dan penis itu lepas dari vaginanya, tapi keadaan tak berubah, ikatan lakban mengancing bagian pinggang mereka membuat Rifri tak mungkin menaikkan tubuhnya.

“Akhh.. paak.. gimana inihh.. ahhh..,” Rifri kembali diam tak bergerak, sebagian kepala penis Usman yang dirasanya membuat nafasnya semakin berat.

“Oke.. sekarang mbak diam biar tidak semakin masuk anu saya. Saya akan berusaha melepas ikatan tangan saya mbak.. engghhh,” Usman mengangkat pinggulnya dan pantatnya menjauh dari lantai agar tangannya bisa bergerak bebas, lalu berusaha melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya.

file

“Aaaaaaaaarggghhhhhh,,,,paaaak saakiit”, teriak Rifri agak keras sesaat setelah dengan satu gerakan keatas yg dilakukan Usman akhirnya berhasil merobek selaput darah Rifri. Sekarang lubang vagina Rifri makin basah karena sudah bercampur darah segar dengan cairan hasil orgasme.

“Maaf mbak,,,agak ditahan bentar yah”,jawab Usman sambil melakukan beberapa kali gerakan itu dengan pelan. Pinggul dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina Rifri. Rifri sudah pecah konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis Usman yang keluar masuk perlahan ke vaginanya mengikuti gerakan pinggul Usman.

“Aaaaghhh..ouuggh…ahhhh.. ahhhh…” Rifri semakin mendesah, kini pinggul Rifri melayani gerakan Usman, ia malah berusaha agar penis Usman terasa lebih dalam di vaginanya.

Tangan Usman sudah terlepas dari ikatan dan kini bebas. Tapi libido yang sudah tinggi membuat Usman bukannya melepaskan ikatan lakban di pinggang mereka, ia justru membuka kancing-kancing kemeja Rifri dan meremas payudara Rifri.

“Emmphhh paaak…. emmphhhh,” Rifri semakin hilang kendali diperlakukan seperti itu, kini bibirnya menyambut bibir Usman dan mereka berkecupan sangat dalam dan cukup lama. Usman meloloskan payudara Rifri dari Bra-nya dan mulai menghisapi payudara Rifri, lalu kedua tangannya mengarah ke bawah dan mengamit sisi CD Rifri agar penisnya mengakses jauh vagina Rifri. Saat itu penisnya sudah bisa masuk utuh ke vagina Rifri, tangannya menekan dan meremasi pantat Rifri membuat Rifri semakin mendesah nikmat.

“Ouhgg.. ahhgg.. mbak.., tangan saya sudah lepas.. kita bebasin dulu ikatannya atau bagaimana? ” Usman bertanya sambil menahan kenikmatan digenjot Rifri. Ya pinggul Rifri sudah cukup lama menggenjot Usman membuat penis Usman bebas keluar masuk ke vagina Rifri.

“Emmpphhh terserah bapak sekaranghhh.. emmpphhh..,” Rifri sudah sangat melayang merasakan kenikmatan seks pertamanya, apalagi rangsangan Usman secara liar di payudaranya membuatnya semakin hilang kendali.

“Baik mbak kalau begitu kita tuntaskan duluu.. aahhh..,” Usman kemudian melepaskan ikatan tangan Rifri tapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka tetap seperti semula.

“Iyaahh paak.. terusinnn duluhh… ahhh.. ouhh…,” tangan Rifri yang sudah bebas langsung otomatis merangkul leher Usman dan keduanya kembali saling berpagutan, sementara gerakan pinggul Rifri semakin liar.

Masih disatukan dengan ikatan di pinggang, Usman membalik tubuh Rifri sehingga kini Rifri ditindihnya. Ia lalu menggenjot pantatnya membuat penisnya membobol vagina Rifri secara utuh. Cairan vagina dan darah perawan Rifri menimbulkan bunyi kecilpakan setiap kali berbenturan dengan pangkal penis Usman. Rifri merasakan gerakan Usman makin keras dan makin cepat mengakses vaginanya, kenimatan mulai memuncak di klitorisnya seolah mengumpul panas hingga bongkahan pantatnya. Ia mengimbangi gerakan Rifri dengan menggoyang pinggulnya.

“Oughh.. paaaahhk… ahhhh.. enaaaakk paak… ahhhh..aahhhhhhh…,” Rifri merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Usman yang terus menerus menghujam. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi otot vaginanya berkedutan intens mengantar kenimatan puncak.

“Aghh… ahhh… mbaakk…uuhhhhh…mmmpphhh..,” Usman membenamkan seluruh penisnya ke vagina Rifri dan melepas spermanya menyembur dinding rahim Rifri sambil bibirnya langsung melumat bibir Rifri. Tubuh keduanya seakan menegang bersamaan mencapi klimaks seksual.

Beberapa saat setelah itu,Usman lalu melapas iakatan lakban yang menyatukan pingang mereka dan membantu Rifri membersihkan vaginanya dengan tissue. Lalu mereka berdua merapihkan busana masing-masing. Perampokan baru saja usai, dan kawanan perampok sudah meninggalkan bank dengan barang jarahannya.“Emm.. mbak.. saya minta maaf atas kejadian barusan… saya hilaf…” kata Usman

“Sudah.. sudah pak namanya juga musibah..,” Rifri memotong pembicaraan Usman.

Di benak Rifri kejadian ini membuat dia sangat trauma namun sekaligus juga membuat dia merasakan pertama kali seperti apa kenikmatan seks itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s